Tantangan Bisnis Di Solihull, Badai Besar Yang Mesti Dihadapi Komunitas Bisnis

Tantangan Bisnis Di Solihull, Badai Besar Yang Mesti Dihadapi Komunitas Bisnis

Tantangan Bisnis Di Solihull, Badai Besar Yang Mesti Dihadapi Komunitas Bisnis

Tantangan Bisnis Di Solihull, Badai Besar Yang Mesti Dihadapi Komunitas Bisnis – Wabah Virus Corona pada tahun ini melanda Eropa. Dunia tengah mengalami krisis dalam bisnis. Hal ini tentu saja lambat laun akan berdampak pada Solihull. Padahal Solihull sendiri masih ada PR besar yang bisa dikatakan tantangan yang bisa menurunkan atau memperlambat [bahkan defisit] secara signifikan pertumbuhan GVA lokal dibandingkan Inggris Raya [U.K]. Di antaranya :

– Populasi
Populasi Solihull tumbuh pada tingkat yang lebih lambat daripada U.K. secara keseluruhan, diharapkan jumlah penduduk tumbuh sekitar 10 persen pada tahun 2033. Ekspansi kecil ini setidaknya bisa berikan tambahan tenaga pada layanan seperti transportasi, perumahan, pendidikan dan infrastruktur. Proyeksi untuk beberapa dekade mendatang menunjukkan bahwa penuaan populasi akan berlanjut dan, wilayahnya juga akan semakin beragam.

Sensus 2011 menunjukkan bahwa penduduk kulit hitam, Asia, dan etnis minoritas lainnya mengisi 11 persen dari populasi. Dengan meningkatnya jumlah ini, dewan mengatakan bahwa desain layanan perlu memperhitungkan perubahan demografis.

– Ketidakmerataan
Meskipun ada reputasi cemerlang di Solihull sebagai kota yang berkembang pesat, dengan upah di atas rata-rat,a dan tunjangan di luar pekerjaan dalam jumlah yang relatif rendah dari klaim, Solihull juga dikatakan sebagai kota yang paling terbelah di negara U.K. Maksudnya? Statistik nasional menunjukkan bahwa 16 persen dari 134 lingkungan di wilayah Solihull itu digolongkan di antara yang paling miskin di negara U.K, dan 39 persen dihitung di antara yang paling miskin. “Wilayah ini memiliki kesenjangan kemakmuran yang terus-menerus yang terbukti sulit ditutup,” jelas statistik.

– Kurang Tenaga Kerja
Jumlah staf setara penuh waktu yang dipekerjakan oleh Solihull Council telah turun sekitar 11 persen selama lima tahun terakhir. Sekarang otoritas lokal mempekerjakan 4.200 karyawan (setara penuh waktu), sekitar setengahnya bekerja di sekolah yang dikelola dewan.

– Pajak Daerah Tidak Tinggi-Tinggi Amat
Uang dari pajak daerah adalah satu-satunya sumber pendapatan terbesar Kota Solihull bergerak dalam gerak lamban. Pada 2013/14 pungutan pajak itu sudah mencapai lebih dari setengah pendanaan dan proporsinya bertambah lamban di tahun-tahun berikutnya. Dalam anggaran 2017/18, pendapatan dari pajak menyumbang 71 persen dari semua pendanaan (£ 13 juta lebih dari empat tahun sebelumnya).

– Tekanan Pada Populasi Tua dan Muda
Ada semacam ketegangan yang meningkat pada populasi, yakni bertambahnya warga negara senior yang butuh anggaran perawatan sosial – hal ini didorong oleh populasi yang menua dan meningkatnya prevalensi demensia – tyang didokumentasikan dengan baik, ada juga kebutuhan tambahan pada tingkat layanan anak-anak. Dewan Solihull mencatat bahwa jumlah anak yang butuh bantuan penganggaran baru, telah meningkat dari 361 pada Maret 2016 menjadi 416 pada Maret tahun ini. Ada juga peningkatan dalam proporsi anak-anak yang dianggap memiliki kebutuhan yang lebih tinggi.

– Brexit
Bob Sleigh, Ketua Dewan Solihull, baru-baru ini mengatakan bahwa pemerintah sedang membuat persiapan untuk “ekonomi pasca-Brexit” dan laporan tersebut telah menekankan pentingnya memantau dampak Inggris saat meninggalkan Uni Eropa. Sejauh ini tidak ada proyek dalam penerimaan dana Uni Eropa yang telah dikoreksi sebagai hasil dari hasil referendum Brexit pada 2016, meskipun dewan mengakui bahwa setiap gangguan terhadap ekonomi dapat memiliki konsekuensi yang luas. Brexit jadi tantangan nyata juga dalam investasi. Jika pihak kamar dagang industri, serta pelaku atau komunitas bisnis di Solihull tidak kompak. Inggris bisa dicoret dari daftar negara yang menguntungkan para investor baru.

Leave a Reply